Selain musik, bagi saya olahraga adalah bahasa
universal yang mampu dipahami oleh setiap orang dengan latar belakang bahasa
dan budaya apapun. Hari ini saya paham mengapa pertandingan sepak bola dari
belahan dunia manapun tetap menjadi tontonan yang menarik untuk sekedar disimak
atau diikuti. Mari kita lihat, betapa gilanya para pecinta sepak bola ketika
menyaksikan pertandingan-pertandingan di liga-liga Eropa atau Amerika macam
EPL, La Liga, Liga Calcio, Bundes Liga, Ere Divisie, atau Copa Libertadores, hingga
gelaran akbar Piala Dunia atau Piala Eropa
(Lah, kok ini yang disebut kompetisi
luar negeri semua? Maklum brooh, kompetisi dalam negeri lagi dimasukin ke
freezer dulu sama Pak Kumis :p). Saya yakin betul 100% bahwa tidak semua dari
kita atau bahkan sebagian besar dari kita tidak paham dengan apa yang diucapkan
oleh komentator saat memandu jalannya pertandingan. Meskipun banyak komentator
yang berbicara dalam bahasa Inggris ketika memandu suatu kompetisi olahraga,
tetapi percayalah bahwa para komentator ini termasuk dalam golongan orang-orang
yang berbicara hampir menyamai dengan kecepatan cahaya (mungkin kuota masih
full & sinyalnya wuzz wuzz). Saya sendiri yang mempelajari bahasa Inggris
sering tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh komentator pertandingan
(selain factor kecepatan cahaya, hal ini juga terjadi karena listening saya
yang LOLA tingkat nasional :’().
Regardless cara berbicara si komentator yang
wuzz wuzz, toh kita sebagai pemirsa masih paham apa yang terjadi di lapangan.
Kita paham ketika wasit meniup peluit karena ada handball, off side,
pelanggaran, atau bola keluar. Pun kita masih paham bahwa si pemain akan
melakukan free-kick, penalty, throw in, dll.
Hal ini saya pahami ketika pagi ini saya
menonton pertandingan sepak bola hiburan Antara tim guru dan tim siswa di
Sasanupatham Game. Memang tidak sah kalau ada pertandingan, apalagi sepak bola,
kalau tidak ada komentatornya. Maka ditunjuklah salah seorang siswa untuk
menjadi komentator. Saya yang Cuma punya kemampuan less than poor dalam
penguasaan bahasa Thailand mungkin bisa migraine mendadak kalau hanya
mendengarkan celotehan si komentator. Karena yang bisa saya dengar hanya “bla
bla blab la, na khap.. bla bla blab la, na khap.. bla bla blab la, na khap”.
Sungguh! Tidak lebih, tapi bisa jadi malah kurang :D. Sekali lagi, saya masih
paham dengan jalannya pertandingan. Saya paham 100% ketika wasit meniup peluit
karena tangan salah seorang guru menyentuh bola atau pada saat bola keluar.
Yes, this is how sport works as a universal
language. See, betapa kompaknya para pendukung tim olahraga mendukung tim
kesayangannya (tidak hanya sepak bola saja lho ya, ini juga berlaku untuk jenis
olah raga lain seperti bulu tangkis, voli, dan basket, eitss tinju juga). Since
being a universal language, finally olahraga mungkin juga bisa menjadi alat
untuk mempersatukan banyak kepala, lho. That’s why, ayok kita sama-sama jaga
the fairness of the game. Sportivitas dalam olahraga. So, olahraga tidak
sekedar menjadi sumber hiburan tetapi juga sarana untuk mengedukasi diri kita
tentang arti kerjasama, kerja keras, dan kejujuran.
Salam Olahrga o_o
No comments:
Post a Comment