Wednesday, June 10, 2015

Salam Olahraga!



Selain musik, bagi saya olahraga adalah bahasa universal yang mampu dipahami oleh setiap orang dengan latar belakang bahasa dan budaya apapun. Hari ini saya paham mengapa pertandingan sepak bola dari belahan dunia manapun tetap menjadi tontonan yang menarik untuk sekedar disimak atau diikuti. Mari kita lihat, betapa gilanya para pecinta sepak bola ketika menyaksikan pertandingan-pertandingan di liga-liga Eropa atau Amerika macam EPL, La Liga, Liga Calcio, Bundes Liga, Ere Divisie, atau Copa Libertadores, hingga gelaran akbar Piala Dunia atau Piala Eropa
(Lah, kok ini yang disebut kompetisi luar negeri semua? Maklum brooh, kompetisi dalam negeri lagi dimasukin ke freezer dulu sama Pak Kumis :p). Saya yakin betul 100% bahwa tidak semua dari kita atau bahkan sebagian besar dari kita tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh komentator saat memandu jalannya pertandingan. Meskipun banyak komentator yang berbicara dalam bahasa Inggris ketika memandu suatu kompetisi olahraga, tetapi percayalah bahwa para komentator ini termasuk dalam golongan orang-orang yang berbicara hampir menyamai dengan kecepatan cahaya (mungkin kuota masih full & sinyalnya wuzz wuzz). Saya sendiri yang mempelajari bahasa Inggris sering tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh komentator pertandingan (selain factor kecepatan cahaya, hal ini juga terjadi karena listening saya yang LOLA tingkat nasional :’().
Regardless cara berbicara si komentator yang wuzz wuzz, toh kita sebagai pemirsa masih paham apa yang terjadi di lapangan. Kita paham ketika wasit meniup peluit karena ada handball, off side, pelanggaran, atau bola keluar. Pun kita masih paham bahwa si pemain akan melakukan free-kick, penalty, throw in, dll. 
Hal ini saya pahami ketika pagi ini saya menonton pertandingan sepak bola hiburan Antara tim guru dan tim siswa di Sasanupatham Game. Memang tidak sah kalau ada pertandingan, apalagi sepak bola, kalau tidak ada komentatornya. Maka ditunjuklah salah seorang siswa untuk menjadi komentator. Saya yang Cuma punya kemampuan less than poor dalam penguasaan bahasa Thailand mungkin bisa migraine mendadak kalau hanya mendengarkan celotehan si komentator. Karena yang bisa saya dengar hanya “bla bla blab la, na khap.. bla bla blab la, na khap.. bla bla blab la, na khap”. Sungguh! Tidak lebih, tapi bisa jadi malah kurang :D. Sekali lagi, saya masih paham dengan jalannya pertandingan. Saya paham 100% ketika wasit meniup peluit karena tangan salah seorang guru menyentuh bola atau pada saat bola keluar.
Yes, this is how sport works as a universal language. See, betapa kompaknya para pendukung tim olahraga mendukung tim kesayangannya (tidak hanya sepak bola saja lho ya, ini juga berlaku untuk jenis olah raga lain seperti bulu tangkis, voli, dan basket, eitss tinju juga). Since being a universal language, finally olahraga mungkin juga bisa menjadi alat untuk mempersatukan banyak kepala, lho. That’s why, ayok kita sama-sama jaga the fairness of the game. Sportivitas dalam olahraga. So, olahraga tidak sekedar menjadi sumber hiburan tetapi juga sarana untuk mengedukasi diri kita tentang arti kerjasama, kerja keras, dan kejujuran.
Salam Olahrga o_o

No comments:

Post a Comment