*catatan lawas yang kayaknya seru kalau di-post :)
Tiga
hari yang lalu, tepatnya hari Kamis, saya bersama dua teman saya, Fikri dan
Rizky, tengah berbincang asyik di perpustakaan sekolah tempat kami praktik
mengajar. Hal-hal yang kami obrolkan tentunya obrolan ringan khas mahasiswa.
Tak jauh-jauh dari pengalaman lucu di kelas, tragedi mengenaskan dimarahi oleh
dosen killer sampai pengalaman konyol
sok-sokan berbicara dalam bahasa
Inggris dengan dosen ‘bule’ kami. Obrolan semakin asyik ketika ternyata kami
sama-sama punya pengalaman gila di kelas speaking
(berbicara) yang diampu oleh dosen ‘bule’ tadi yang berasal dari Inggris tulen.
Ternyata
sepanjang kelas speaking yang
berlangsung selama 100 menit kami tidak memahami satu katapun yang diucapkan
oleh si Bu’ Bule. Jadilah kelas kami itu kelas yang luar biasa tenang. Ini
bukan karena kami khidmat menyimak materi yang disampaikan oleh dosen,
melainkan karena kami bingung setengah mati dengan omongan si Bule. Tak satu
kalimatpun kami pahami dengan baik. Parahnya lagi, si Bule pun tak menyadari
kebingungan kami yang semakin akut. Dia tetap saja berkhutbah panjang lebar
dengan semangatnya.
Musibahpun
terjadi ketika si Bule memberikan tugas individu kepada kami, mahasiswanya.
Keringat dingin bermunculan dan degupan jantung tiba-tiba meningkat. Seisi
kelas tak ada yang paham sedikitpun. What
do we have to do? Kamipun serempak
celingukan kanan kiri depan belakang.
Untunglah,
Tuhan masih sayang kepada kami. Ternyata di kelas kami ada seorang mbak-mbak semester atas yang ternyata
masuk kelas speaking kami. Ternyata
bahasa Inggris mbak ini luar biasa. Dia adalah satu-satunya orang di kelas kami
yang mengerti ucapan si Bule dari awal hingga akhir. Kontan saja kami segera
mengerubuti kursi si Mbak pinter ini.
Dengan sangat halus dan pelan si Mbak
menjelaskan tugas itu kepada kami. Kami dengan sangat khusyuk menyimak apa yang
diterangkannya. Tak berapa lama kemudian, kami serentak berkata ‘Oooo’ tanda
bahwa kami mengerti. Si bule yang sedari tadi asyik chatting di depan laptopnya, tiba-tiba kaget dan terheran-heran
dengan kelakuan mahasiswanya yang unyu, lugu dan semi plonga plongo :D.
Setelah
beberapa pertemuan kelas speaking,
kebingungan saya dengan omongan si Bule tak kunjung hilang. Sayapun mulai
was-was dengan masa depan saya di kelas speaking.
Akhirnya pada suatu hari di akhir kelas speaking,
saya sengaja menyeret salah satu teman untuk menemani saya melakukan rencana
gila yang sudah lama saya persiapakan. Hal ini saya lakukan akibat rasa
frustasi berkepanjangan yang saya alami di kelas speaking, tidak paham dengan bahasa Inggrisnya orang bule!
Dengan
malu campur takut saya beranikan diri untuk keluar kelas paling akhir. Saya
bermaksud untuk berbicara empat mata dengan si Bule perihal masalah ‘pendengaran’
saya. Saat itu, saya sudah mempersiapkan dengan apik kata-kata yang akan saya
sampaikan ke si Bule. Dengan bahasa Inggris belepotan dan pronunciation yang sok di-Inggris-inggriskan, saya utarakan
masalah saya kepada si Bule.
Saya
sudah setengah mati nervous
kalau-kalau si Bule mengajukan pertanyaan langsung pada saya dan saya tidak
bisa menjawabnya karena tidak paham apa yang dia tanyakan. Tanpa disangka,
sambutan si Bule luar biasa. Ketika mendengarkan keluhan saya, dia tersenyum,
manis sekali. Selesai mendengarkan saya, dia buru-buru minta maaf kepada saya
karena selama ini dia bicara terlalu cepat. Dari raut muka dan caranya meminta
maaf, saya yakin dia benar-benar tulus dan merasa tidak enak karena telah
membuat kami pusing alang kepalang.
Di
akhir percakapan, saya beranikan diri untuk bicara pada si Bule, “I hope you
can speak more slowly when you teach us”. Lagi-lagi si Bule tersenyum dan
kembali meminta maaf dan berjanji kalau dia tidak akan berbicara terlalu cepat
ketika dia mengajar. Saya ingat betul closing statement si Bule waktu
itu, “Just tell me if I speak too fast. Don’t be hesitant. OK?”
Setelah
itu, si Bule berlalu dari ruang kelas sedangkan saya masih terpaku diam di
kelas. Setelah itu saya merasa sangat bahagia karena itulah pertama kali saya
bisa dan berani berbicara dengan bule. Not important? Exactly! Hahahaha…
Ini
ceritaku, mana ceritamu :)?
September, 1 2013
No comments:
Post a Comment