Friday, April 20, 2012

How Do I See Myself?

Ahad, 15 April 2012
Satu malam menjelang UTS semester genap
Semester 4
Jam 21.30
With si Hitam kesayangan

An Ambitious and Idealist Girl………
Kata ambisius seringkali mendapatkan konotasi negative di mata kebanyakan orang. Karena memang dari sekian banyak kasus, orang ambisius cenderung mempunyai keinginan atau tepatnya mimpi yang sangat kuat dan terkadang sering kebablasan dengan menghalalkan segala cara untuk merealisasikannya. Tengok saja contoh konkret yang bertebaran di hamper semua sinetron tanah air. Meskipun kisah di sinetron nyata-nyata dibuat super hyperbolic dan fiktif, cerita-cerita tersebut telah dengan sukses membentuk paradigma berpikir masyarakat. Bagaimana tidak, setiap hari tak kurang, bahkan kadang lebih dari 3 jam,masyarakat terus dicekoki cerita-cerita sinetron dengan aneka ragam judul walaupun pada dasarnya pokok ceritanya masih tetap sama hanya ada perubahan di nama aktor, aktris, dan tentu judulnya.
Kembalilagi ke kata ambisius. Jujur saja, aku termasuk orang yang tidak setuju jika kata ambisius selalu dikaitkan dengan ungkapan-ungkapan berkonotasi negative. Ini tidak semata-mata karena aku mengakui diriku sebagai seorang ambisius tapi lebih karena makna kata ambisius yang hakiki itu sendiri. Aku hanya ingin menekankan bahwa tidak semua orang ambisius selalu identik dengan orang yang berperangai buruk.
Kawan, kenapa aku terang-terangan menyebut diriku ambisius? Yah, itu karena setelah sekian lama aku observasi diriku sendiri, aku selalu ingin menjadi yang lebih dibandingkan dengan teman-teman ku yang lain. Dalam hal apapun, akademik maupun non akademik. Dan alhamdulillahnya, di hamper setiap kompetisi dalam bentuk apapun, aku selalu menang dari mereka. Seingkat kata, dalam hal prestasi di sekolah aku selalu berhasil mendapatkan apa yang aku mau. Salah satu contohnya, dulu swewaktu aku duduk di bangku madrasah ibtidaiyah (SD) dari kelas 1-4 aku selalu ada di posisi ranking ke-2 dengan perbedaan nilai hanya pada koma. Salah satu guruku pernah bilang bahwa perbedaan nilaiku dan Wulan hanya 0,20. Miris sekali, Kawan. Miris. Selalu begitu nasibku. Sedangkan di posisi 1 ada rival berat sekaligus konco kenthel (teman akrab) ku, Wulan. Dia sudah bersamaku sejak di taman kanak-kanak. Jika digambarkan, posisiku seperti kisah Alif Fikri dan rival sekaligus sahabat dekatnya Randai dalam sekuel Negeri 5 Menara. Bahkan kami selalu duduk satu bangku. Persis seperti itu. Aku dan Wulan, kadang harus saling bermusuhan dalam hal prestasi, tapi kami juga selalu main bersama-sama.
Selama aku duduk di peringkat 2 dari kelas 1-4 tak ada perasaan masygul berlebihan dalam diriku. Pun orang tuaku tak pernah protes, mereka hanya bilang kalau aku hanya belum sadar akan persaingan atau kompetisi. Grafik peningkatan nilaiku mulai naik ketika aku duduk di kelas 5. Waktu itu penggunaan istilah catur wulan sudah mulai diganti dengan istilah yang lebih keren, semester. Di semester 1, nilaiku dan Wulan benar-benar sama. Walhasil ada dua ranking satu dalam satu kelas, aku dan Wulan. Bayangkan Kawan, betapa ketatnya persaingan kami, bukan? Di semester 2, aku semakin aware dengan arti sebuah achievement. Aku akhirnya bisa menggeser Wulan yang sudah karatan duduk di bangku teratas selama 5 tahun. Yes, I got it!!
Setelah 5 tahun ditempa, akhirnya aku naik ke kelas tahta tertinggi yaitu kelas enam. Kelas yang paling diperhatikan oleh guru. Bukan karena apa-apa, melainkan kami masih suka main seenaknya padahal waktu Ujian Nasional (lebih pas disebut sebagai Untung-untungan Nasional) sudah ada di ambang pintu. Di semester pertama aku kemblai sukses menancapkan kuku di kursi kampiun nomor satu. Wulan kembali kupaksa turun dari singgasana itu. Aku semakin sadar akan pencapaian terbaik. Singkat cerita, hari itu adalah hari pengumuman kelulusan. A surprising day. Aku tak berani gambling ada di posisi berapa namaku tertera. Walaupun begitu, dalam hati aku berharap, sangat berharap, ada di posisi puncak sebagai lulusan terbaik. Sebuah gelar yang sangat diinginkan bukan? Ya, tibalah saat pengumuman dan luar biasa Kawan, angan-anganku terwujud. Namaku ada di posisi puncak. I win. Sedangkan Wulan, ia ada persis di posisi setelahku. Fiuhh, lega rasanya.
Semenjak saat itulah Kawan, aku menjadi ambisius untuk meraih apa yang aku inginkan. Alhamdulillahnya, aku memiliki semangat dan daya nekat yang tinggi. Aku selalu punya target dan impian yang aneh. Dulu aku berangan-angan bahwa aku harus sekolah ke Italia karena aku ngefans berat dengan bomber Gli Azzuri dan Internazionale Milan, Christian Vieri. Tak ada satu match Inter Milan pun yang aku lewatkan. Kalau di flash back, dari dulu sampai sekarang aku memang cenderung mempunyai mimpi yang terbang tinggi sampai ke langit tingkat tujuh. Walaupun kadang ada yang bilang terlalu mengada-ada. Tapi ya sudah dengarkan saja mereka. Toh itu tidak akan membuat kita tiba-tiba kehilangan hidung atau apa, kan?
Di awal sudah aku sebutkan bahwa semasa duduk di bangku sekolah aku merasa sangat lucky karena aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Eits, jangan berpikir negative dulu, Kawan. Itu aku peroleh dengan kerja keras dan semangat yang luar biasa. Ketika duduk di bangku madrasah tsanawiyah(MTs.) aku dan Wulan ditempatkan di kelas yang berbeda. Aku kelas A dan dia kelas B. Yup, rival berkurang satu. Tanpa Wulan, ternyata aku masih harus bekerja keras untik bersaing dengan murid baru yang lain. Lagi-lagi Alhamdulillah, aku masih unggul dari mereka. Aku pun selalu mendapatkan beasiswa karena memperoleh gelar juara umum berturut-turut setiap semester. Itu berlangsung dari kelas 7-9. Unchangeable positionJ. Di Ujian Nasional pun lagi-lagi aku berhasil mendudui posisi teratas dengan nilai UAN tertinggi. Piala mungil di etalase rumah itulah buktinya. Bisa kau bayangkan, Kawan? Yang berdiri di depan dan menerima piala itu bukan aku, tapi Ayahku juara saru sedunia (mengutip istilah Andrea Hirata) yang menerimanya. How happy he was! Itulah sebenarnya support terbesar dalam diriku. Melihat orang tuaku bangga dan membuatnya bahagia. Sudah, hanya itu. Titik.
---To be continued, Kawan……---

No comments:

Post a Comment