Friday, April 20, 2012

Cah Ndeso Jalan-jalan: Edisi Nginep di Hotel

Lulus dari MTs. Ayah mengirmku untuk merantau ke kabupaten sebelah untuk menuntut ilmu disana. Aku akhirnya diterima di sebuah sekolah yang tak terlalu ku ketahui levelnya waktu itu, Madrasah Aliyah Negeri Purwokerto 1 atau setara dengan SMA, hanya saja ilmu agama mendapatkan porsi yang lebih besar. Awalnya aku takut, jangan-jangan aku kalh bersaing dari anak-anak kota ini (jiwa ambisiusku muncul). Apalagi untuk pelajaran ilmu computer. Aku sempat was-was. Setelah satu dua kali pertemuan, baru aku tahu dari salah seorang guru bahwa sekolahku itu tidak terlalu favorit, bahkan cenderung bisa disebut 'sekolah buangan'. Aku sempat masygul berat. Kenapa aku tidak pernah masuk sekolah favorit? Kalau begini keadaannya, kapan aku bisa mencapai prestasi yang tinggi? Aku sempat berpikir untuk minta pindah sekolah, aku ingin pulang ke rumah saja.
Tapi pelan-pelan perasaan itu hilang. Ternyata itu hanya bagian dari rasa homesickku sebagai anak kos baru. Lama-lama aku nyaman disana. Finally, aku berhasil merebut hati para guru lewat nilai-nilaiku. Guru pertama yang berhasil aku buat terkesan adalah guru Bahasa Indonesia favoritku sepanjang masa, Ibu Sri Rejeki. She is my lovely teacher. Setelah itu perjalanan terasa semakin mulus. Momen tes ujian akhir semester merupakan panggung unjuk gigiku. Yup, again I win their heart. I’ve made them impressed. I got number one and be the best. Ternyata nilaiku juga masuk sebagai nilai tertinggi di antara anak-anak kelas 10 lainnya. Alhamdulillah, free SPP satu semester ada di tangan. Setelah itu popularitasku sebagai peraih rangking parallel pertama semaikn naik (narsistic:p). However, aku tetap menjaga diri agar tidak sombong. Ini terjadi berturut-turut. Walaupun sempat jatuh, akhirnya aku berhasil bangkit kembali. Satu hal yang membuatku paling bahagia. Aku berhasil mengurangi sedikiiiiiiiiiit beban orang tuaku yang harus mengirimi uang setiap bulan. At least mereka sudah tak terganggu dengan pikiran SPP anaknya. Itulah hal yang paling aku tuju, Kawan. MENGURANGI BEBAN ORANG TUA.
Di awal semester pertama kelas 11, sebuah kesempatan emas benar-benar dating dan mencolek punggungku. Tanpa tahu asal muasalnya apa dan bagaimana, aku dan temanku Rini Noviani, dipanggil oelh guru Bahasa Indonesiaku, Bu Sunarti. Beliau menawari kami berdua untuk ikut kompetisi penulisan karya tulis ilmiah remaja. Seperti orang dihipnotis, aku iyakan saja tawaran itu, padahal aku sama sekali tak tahu apa itu karya tulis ilmiah. Yang ada di benakku saat itu adalah semacam artikel tentang alam-alam karena ada kata ilmiah disitu. Proses penyusunan berlangsung singkat, kurang dari 1 minggu tentunya di bawah bimbingan Bu Narti. Aku tak pernah berekspektasi akan lolos babak penyisihan tingkat provinsi apalagi menang. Selang beberapa bulan aku tiba-tiba di telepon oleh Bu Narti bahwa karya tulisku berhasil lolos di tingkat provisnsi dan harus dipresentasikan di tingkat nasional di Jakarta, Kawan. Aku tidak yakin awalnya bahwa itu benar-benar namaku. Bahkan aku sudah lupa bahwa kau pernah ikut lomba semacam itu. Akhirnya dengan nada bicara yang diyakin-yakinkan aku ceritakan hal itu pada keluargaku. Oh God, sambutan mereka ternyata luar biasa. Rona bahagia jelas terpancar di muka mereka. Ya, I’ve created this moment again, make them happier! Ternyata yang berhak presentasi di Jakarta hanya satu orang dan pihak sekolah mempercayakkan itu padaku. Lomba itu dilaksanakan tepat pada saat bulan puasa. Alhasil aku harus rela buka dan sahur di tengah jalan. Pusing bukan main!!!
Aku berangkat dari Purwokerto ke Jakarta ba’da maghrib naik travel bersama guruku yang katanya sudah expert di bidang tulis-tulis itu. Aku sampai di Jakarta sekitar pukul tiga pagi. Sambil berusaha mengumpulkan nyawa, aku mulai dibuat kagum dengan bangunan-bangunan gedung disana. Akhirnya travel berhenti di salah satu lapak yang menjual makan sahur dengan rupa-rupa makanan khas ranah minang. Dengan perasaan bingun melihat bentuk-bentuk makanan itu, aku beranikan diri untuk bertanya kepada Uda si penjual nasi yang terus saja aku panggil Mas. Setelah makan sahur sekenanya, kami langsung di antar menuju hotel tujuan kami, Treva. Selama tiga hari kami semua peserta tinggal di hotel bintang tiga tersebut. Alamaaaaak, keren nian ini tempat. Terserah kalau Kawan-kawan menyebutku ndeso, tapi memang itu yang aku alami. Aku lupa kamarku ada di lantai berapa yang jelas ada di lantai belasan. Naik ke kamarpun nail lift, tak usah capek-capek mendaki gunungan anak tangga menyebalkan itu. Desain kamarpun terasa sangat mewah untuk ukuran anak desa sepertiku. Membuka kamar dengan kartu bukan dengan kunci yang selama ini hanya aku lihat di TV sekarang benar-benar aku lakukan sendiri. Kamar tidur ber-AC, dilengkapi dengan bed yang super empuk, tv flat 29 inch lengkap dengan channel dalam dan luar negeri yang gambarnya jernih luar biasa walaupun tanpa antenna yang centang perenang kesana kemari, kamar mandi khas hotel berbintang dengan shower hot and cold, wastafel, alat mandi mungil-mungil, handuk putih tebal yang lembut, 4 botol air mineral bermerek, sandal hotel yang kecil, ringan tapi terasa keren saat memekainya plus lemari pakaian seperti milik para artis untuk menyimpan kostum manggungya. Selama di hotel, aku merasa seperti hidup di istana. Untuk urusan makan, sudah tak perlu khawatir. Kami akan dibagikan kupon kecil-kecil sebagai tanda jatah makan. Model makan dilakukan dengan model prasmanan alias ambl sendiri-sendiri. Bagi sebagaian orang sesi makan makanan hotel adalah sesuatu yang paling dinanti, tapi buatku tidak. Di hari pertama makan, aku sempat termangu-mangu melihat aneka rupa makanan yang tak ku tahu nama dan rasanya. Agar tak terlihat bingung, serabutan ku ambil aneka makanan itu. Walhasil, lidahku masih terlalu lugu untuk merasakan makanan antah berantah itu. Nasi hanya aku aduk-aduk, tidak habis.
Waktu presentasi pun tiba, the waited Friday. Aku mendapat giliran awal yaitu nomor 6 sedangkan Susi, teman sekamarku asal Pati,mendapat nomor 4. Tidak tahu kenapa aku tidak grogi sama sekali. Padahal pengujinya adalah seorang mbha-mbah bertitel professor dan seorang bapak-bapak bergelar master. Setelah habis diberondong dengan banyak pertanyaan, hatiku terasa lega bukan main. Alhamdulillah, tak sehoror yang aku bayangkan. Setelah shalat jumat selesai, kami ternyata diajak jalan-jalan oleh seorang koko (orang Cina) namanya Pak Paulus, ia adalah salah seorang kenalan gurunya Susi. Kami ditawari macam-macam tempat wisata. Aku dan Susi yang tak paham betul hanya bisa angguk-angguk kepala saja, manut. Karena terlanjur lemas, akhirnya kami hanya mengunjungi tempat paling legendaris di Jakarta, Monumen Nasional,Monas. Akhirnya mimpiku kesampaian juga untuk masuk Monas. Aku juga langsung menjajal teropong utnuk melihat aneka rupagedung pencakar labgit disana. Puas hatiku rasanya. Apalagi jalan-jalan ini gratis tis!!
Malamnya adalah malam paling menegangkan karena nanti ba’da shalat tarawih akn diumumkan hasil lomba kami sinag tadi. Aku cuek saja malam itu dan tiba-tiba sja namaku disebut oleh MC sebagai juara 2 kategori IPS. Hah, yang bener?? Kebetulan aku dan Susi dating tanpa didampingi guru kami. Aku bingung bagaimana mengabarkan hal ini pada guruku. Akhirnya setelah sesi foto-foto, penyerahan hadiah, dan tea break aku kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti berpikir kira-kira apa isi hadiah yang dibungkus dengan kardus seukuran kardus tv 14 inch? Sesampainya di kamar, Bu muth tidak menyabgka kalau aku juara 2, beliau senang alang kepalang. Hadiah kami buka beramai-ramai. Ternyata isinya sebuah laptop hitam yang terlihat gagah. Yah laptop itu adalah laptop yang saat ini aku gunakan untuk menulis catatan ini.
Sekali lagi, bayangan orangtuaku muncul. Dan aku berhasil mengurangi sedikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit beban mereka. Aku sudah punya laptop sendiri tanpa meminta pada orangtuaku. Yah, walaupun untuk mendapatkan laptop ini penuh perjuangan luar biasa sampaisampai harus ‘rebutan’ dengan kepala sekolah. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Menurutku sekali-sekali perlu membuat keributan dengan orang yang jabatannya lebih tinggi dari kita. Seru, bukan?
---To be continued, Kawan……---

No comments:

Post a Comment