Monday, June 8, 2015

Cerita Tice #2: Culture Shock



Menurut buku-buku pengajaran bahasa asing yang sudah pernah saya baca (tsaaaaaaah ~o)), murid kerap mengalami yang namanya culture shock ketika ia mengikuti pembelajaran bahasa asing. Apalagi kalau kasusnya adalah anak tersebut datang dari negara atau tempat yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari kemudian dia pindah ke negara/tempat yang menggunakan Bahasa Inggris sebahai bahasa bertutur sehari-hari.

Nah, sampai sekarang saya belum menemukan teori culture shock yang dialami guru. Ehm.. ini bukan karena teori itu belum ada dan ditemukan, tetapi semata-mata karena saya saja yang belum dan kurang banyak membaca :| (Ampuuuuun DJ! Ketahuan jarang baca :()

Disini saya benar-benar mengalami culture shock. Let’s see, semuanya serba baru. Sekolah baru, murid guru, teman guru baru, tempat tinggal baru, makanan baru, dan yang jelas bahasa baru. Tetapi sayangnya tidak ada baju baru karena ini bukan lebaran, Saudara-saudara X_X


Sebagai fresh graduate ting ting yang pengalaman mengajarnya masih ala kadarnya seperti saya, wah ini jelas tantangan besar! Meskipun sebelumnya saya adalah salah satu aktivis ngeles, menghadapi murid dalam bentuk klasikal tentu feel-nya berbeda dengan mengajar 1-2 orang anak. 

The problem doesn’t stop there. Selain minimnya pengalaman mengajar, perbedaan bahasa antara saya dan murid-murid ajaib saya adalah masalah besar saya yang selanjutnya. Untuk masalah perbedaan bahasa ini, insyaAllah akan saya ceritakan lebih lanjut di postingan lain karena cerita tentang bahasa ini memang warbiyasak dan syalalalala \m/. Coba bayangkan, guru dari Indonesia mengajar Bahasa Inggris di Thailand. Nah lho, ketemunya dimana coba? Serum kan? (serum = seru + serem).

Lima mini paragraf rasanya sudah mewakili kegundahan hati saya untuk sub-bab culture shock dalam mengajar. Sekarang yuk mari pindah ke sub-bab culture shock makanan.
Saya kebeetulan bukan termasuk yang addicted dengan wisata kuliner. Sebaliknya, saya adalah tipikal orang yang memilih comfort zone dalam urusan makanan. Artinya saya suka yang pasti-pasti saja :D. Saya lebih suka untuk ‘cari aman’ memilih makanan yang rasanya sudah jelas alias ‘gak mau coba-coba’ hihihi. But then, saya dihadapkan pada situasi seperti ini, makanan dengan nama dan taste baru. Alamakjaaaang, apalagi ini…? Saya sempat khawatir kalau-kalau lidah kampung ini belum sanggup untuk move on dari tempe tahu goreng, sayur asem dan sambal terasi :(

Sungguh benar kata pepatah kuno (gak tahu pepatah dari mana X_X) bahwa kadang kenyataan tidak sesulit apa yang kita bayangkan (hasseeeeeek :v). The fact denied all the worries. See, saya finally bisa ‘berdamai dan bergandengtangan’ dengan makanan ala ala Thailand selatan. Mulai dari makanan yang taste dan tampilannya ‘normal versi saya’ alias masih ng-Indonesia sampai makanan yang absurd ‘versi saya’:v. Ternyata saya lupa satu hal dari diri saya bahwa saya termasuk kelompok omnivore, apa wae dipangan :D. Hmm… tenyata dalam keadaan emergency, insting survival seseorang biasanya otomatis muncul. Daripada kurus kering kelaparan, mending makan saja apa yang ada asal halal dan aman. Hehehe… P.S.: sekarang lidah saya sudah lumayan terlatih lho untuk menyantap makanan-makanan baru. So, bagi yang berminat ‘nraktir’ saya, don’t be hesitant to text me =-c.

Anyway, culture shock memang hal yang wajar dan pasti dialami oleh siapapun yang masuk ke dunia baru (termasuk dunia lain >=)). Jangankan beda negara, beda provinsi saja sudah pasti ada culture shock. Memang di awal semua terasa berat (helehhelehheleh) but surely you’ll smoothly pass it. Uyeaaaah! Makanya, yuk semangat mempelajari budaya baru, tentu budaya yang baik, supaya pengalaman bertambah, pemikiran berkembang, dan perutpun kenyang :D.
Burung Irian, burung cenderawasih.
Cukup sekian dan terima kasih. :* (y)

No comments:

Post a Comment