Menurut buku-buku pengajaran bahasa asing yang
sudah pernah saya baca (tsaaaaaaah ~o)), murid kerap mengalami
yang namanya culture shock ketika ia mengikuti pembelajaran bahasa
asing. Apalagi kalau kasusnya adalah anak tersebut datang dari negara atau
tempat yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari
kemudian dia pindah ke negara/tempat yang menggunakan Bahasa Inggris sebahai
bahasa bertutur sehari-hari.
Nah, sampai sekarang saya belum menemukan
teori culture shock yang dialami guru. Ehm.. ini bukan karena teori itu
belum ada dan ditemukan, tetapi semata-mata karena saya saja yang belum dan
kurang banyak membaca :| (Ampuuuuun DJ! Ketahuan
jarang baca :()
Disini saya benar-benar mengalami culture
shock. Let’s see, semuanya serba baru. Sekolah baru, murid guru,
teman guru baru, tempat tinggal baru, makanan baru, dan yang jelas bahasa baru.
Tetapi sayangnya tidak ada baju baru karena ini bukan lebaran, Saudara-saudara X_X.
Sebagai fresh graduate ting ting yang pengalaman
mengajarnya masih ala kadarnya seperti saya, wah ini jelas tantangan besar!
Meskipun sebelumnya saya adalah salah satu aktivis ngeles, menghadapi
murid dalam bentuk klasikal tentu feel-nya berbeda dengan mengajar 1-2
orang anak.
The problem doesn’t stop there. Selain minimnya
pengalaman mengajar, perbedaan bahasa antara saya dan murid-murid ajaib saya
adalah masalah besar saya yang selanjutnya. Untuk masalah perbedaan bahasa ini,
insyaAllah akan saya ceritakan lebih lanjut di postingan lain karena cerita
tentang bahasa ini memang warbiyasak dan syalalalala \m/. Coba
bayangkan, guru dari Indonesia mengajar Bahasa Inggris di Thailand. Nah lho,
ketemunya dimana coba? Serum kan? (serum = seru + serem).
Lima mini paragraf rasanya sudah mewakili
kegundahan hati saya untuk sub-bab culture shock dalam mengajar.
Sekarang yuk mari pindah ke sub-bab culture shock makanan.
Saya kebeetulan bukan termasuk yang addicted
dengan wisata kuliner. Sebaliknya, saya adalah tipikal orang yang memilih comfort
zone dalam urusan makanan. Artinya saya suka yang pasti-pasti saja :D. Saya
lebih suka untuk ‘cari aman’ memilih makanan yang rasanya sudah jelas alias
‘gak mau coba-coba’ hihihi. But then, saya dihadapkan pada situasi
seperti ini, makanan dengan nama dan taste baru. Alamakjaaaang, apalagi
ini…? Saya sempat khawatir kalau-kalau lidah kampung ini belum sanggup untuk move
on dari tempe tahu goreng, sayur asem dan sambal terasi :(
Sungguh benar kata pepatah kuno (gak tahu
pepatah dari mana X_X) bahwa kadang kenyataan
tidak sesulit apa yang kita bayangkan (hasseeeeeek :v). The fact denied all
the worries. See, saya finally bisa ‘berdamai dan
bergandengtangan’ dengan makanan ala ala Thailand selatan. Mulai dari makanan
yang taste dan tampilannya ‘normal versi saya’ alias masih ng-Indonesia
sampai makanan yang absurd ‘versi saya’:v. Ternyata saya lupa satu hal
dari diri saya bahwa saya termasuk kelompok omnivore, apa wae
dipangan :D. Hmm… tenyata dalam keadaan emergency, insting survival
seseorang biasanya otomatis muncul. Daripada kurus kering kelaparan, mending
makan saja apa yang ada asal halal dan aman. Hehehe… P.S.: sekarang lidah saya
sudah lumayan terlatih lho untuk menyantap makanan-makanan baru. So,
bagi yang berminat ‘nraktir’ saya, don’t be hesitant to text me =-c.
Anyway, culture shock memang hal yang wajar
dan pasti dialami oleh siapapun yang masuk ke dunia baru (termasuk dunia lain >=)). Jangankan beda negara, beda provinsi saja sudah pasti ada culture
shock. Memang di awal semua terasa berat (helehhelehheleh) but surely
you’ll smoothly pass it. Uyeaaaah! Makanya, yuk semangat mempelajari budaya
baru, tentu budaya yang baik, supaya pengalaman bertambah, pemikiran
berkembang, dan perutpun kenyang :D.
Burung Irian, burung
cenderawasih.
Cukup sekian dan terima kasih. :* (y)
No comments:
Post a Comment