Saya
merasa menjadi salah satu orang yang beruntung mendapat kesempatan sebaik ini.
Saya tidak perlu waktu begitu lama untuk mendapatkan pekerjaan setelah lulus
kuliah. Dan sudah seharusnya saya bersyukur untuk itu.
Saya
sendiri agak kurang yakin angin apa yang membuat saya seyakin itu untuk
merantau sejauh ini (Ehem...angin kehidupan mungkin) dan akhirnya berhasil
membujuk Jenderal Asesor saya (read: Babeh). Mengajar Bahasa Inggris di Luar
Negeri. Ehm... kedengarannya tempting sekaligus challenging ya? Saya pertama
kali tahu kesempatan ini ketika saya tahu ada beberapa senior saya yang sudah
lebih dulu mencoba. Saya pun mulai melirik-lirik chance sejak masih semester 6
(melirik terlalu dini :D).
Selain
pengalaman yang sudah pasti priceless, iming-iming gaji tinggi juga tidak boleh
dipandang dengan mata bajak laut alias sebelah mata, lho ya :D! Ditambah lagi
rahasia umum di negara kita tentang, ehem, gaji guru apalagi guru honorer yang
nominalnya juga nggak kalah HORORER:'(
Tanpa ada seleksi yang terlalu strict ataupun petugas HRD yang matanya secermat malaikat, akhirnya tanpa banyak ba-bi-bu, singkat cerita saya pun terbang ke negerinya Raja Bhumibol ini. Wusshh...
Dasar manusia yak, hatinya mudah terbolak-balik. Kadang saya perlu berkali-kali untuk meluruskan niat (cielaaah, ngelurusin garis di buku gambar aja susah) bahwa tujuan saya kesana adalah untuk M-E-N-G-A-J-A-R! Bukan shopping, jadi turis, apalagi gaya-gaya'an jadi guru di luar negeri. Duh, plis deh! But, surely, I try to keep reminding myself 'bout this.
Urusan niat ini jadi penting karena ini bakal jadi titik awal perjalanan misi mengajar saya selama setahun ke depan. This is the spot where the journey begins! Let's see how mu journey surprises me :)
No comments:
Post a Comment