Jeng…jeng… Selamat datang di masa-masa menjadi
pengantin baru! Selamat datang di masa semuanya terlihat begitu indah.
Ahihihihi…. Atau boleh lah ditambah lagi: Selamat datang bulan madu! Let’s have
a romantic honeymoon :*. Akhirnya halal juga, hahaha…. Bagi banyak pasangan
suami istri baru, masa-masa di awal pernikahan pastinya jadi masa yang nggak
akan terlupakan. Tiap hari bawaannya hepiiii melulu. Apalagi pas momen-momen
buka-buka kado sama buka amplop para tamu. Everybody must be so much happy,
hahaha. *mustahil kalo nggak hepi :D*
Bagi pasangan yang memegang prinsip
‘NO PACARAN’, setelah ijab qabul dilaksanakan itu berarti kamu and si doi sudah
resmi jadi pasangan halal. Sok atuh, kalau mau puas-puasin pacaran dan jalan
berdua kesana kemari kayak laron :D. Kan udah nggak dosa, malah justru
berpahala, hehehe… Indahnya pacaran setelah pernikahan. Atuuuuuuuuiiii……..
Saya termasuk satu diantara banyak
perempuan yang punya angan-angan semacam itu. Nggak usah ada pacar-pacaran,
dilamar, nikah. Sudah deh, baru setelah itu bisa menikmati masa-masa indah
berdua tanpa takut dosa *padahal dulu jiper waktu mau diajak nikah langsung,
alangkah labilnya dirikuh…* Daaaan, Alhamdulillah wa syukurillah.
Itu semua terkabul. Lewat proses yang ekspres, akhirnya my world changed in
seconds. Setelah akad ijab qabul diucapkan, hidup saya seluruhnya berubah
dalam hitungan detik. Saya bukan lagi Dina yang bebas keluyuran cari makan
sendiri kalau malam *biasanya saya selalu ketingalan rombongan beli makan
satu kos :(* Since that I’ve been a wife of a man! Ada perasaan lega, bahagia plus nervous
juga, sih. Akhirnya setelah melewati proses berpikir yang nggak terlalu lama
dan maju mundur nggak karuan, akhirnya……. :)
Semenjak awal proses lamaran dan
lain-lain, saya dan suami memang sudah sepakat untuk kembali ke Thailand
melanjutkan kontrak mengajar satu tahun lagi. Dan tentunya, untuk tahun kedua
ini saya merasa jauh lebih bersemangat karena at least disini saya sudah
nggak sendiri lagi. Yeaaah, punya temen :* Yang saya bayangkan saat itu adalah
saya dan suami sama-sama tinggal dan bekerja di Thailand *walaupun beda sekolah*.
It means, kita akan punya lebih banyak kesempatan buat jalan berdua
kemana-mana. Main sana main sini. Traveling berdua sekaligus honeymoon.
Mengeksplor banyak tempat baru. Waaaaaaah, that’s so exciting!
Jeng…jeng… ternyata apa yang ada di
lamunan saya itu belum 100% terwujud. Lho? Why? Yup… another surprising
thing is about to come to our life. We’ll be having a baby soon. Ya, saya
hamil Sodara-sodara!Jujur saja, yang pertama kali saya rasakan saat saya masih
menduga-duga bahwa kemungkinan saya s
edang hamil adalah takut luar biasa.
Bahkan saya belum bisa menemukan alasan untuk merasa bahagia atas kehamilan
saya saat itu (Ya Allah, ampuni hamba-Mu yang kurang bersyukur ini :(). So,
apa yang saya takutkan? Saya sendiri tidak tahu persis jawabannya. Mungkin antara
shocked, kaget, merasa belum siap dan merasa terlalu cepat untuk punya
momongan sedangkan usia pernikahan kami belum genap sebulan. Mungkin juga, yang
ada di pikiran saya saat itu adalah saya masih mau menghabiskan masa-masa
berdua dulu dengan suami. Jadi nggak pengen punya baby? Bukan
juga! Kami jelas ingin punya momongan, tapi nggak langsung juga keleus (Ya
Allah…sekali lagi hamba mohon ampun :()
![]() |
| two surprising pinky lines :) |
Bagi saya, masa-masa awal pernikahan
ini menjadi masa yang cukup ‘mengagetkan.’
Kami belum sempat jalan-jalan dan
traveling berdua, ealaaah udah keduluan ada Dek Bayi (maafkan ibumu yang
ababil ini, Sayang :(). Jangankan traveling, naik mobil satu
jam saja pusingnya sehari semalam baru hilang. Belum lagi ditambah bolak-balik
ke kamar mandi karena bawaannya pengen pipiiiiis terus. Apalagi mau backpacker-an! Bisa pingsan
di jalan eyke! Badan lemes, gampang capek, pusing, doyan pipis, gak doyan
makan, plus mood swing yang,hmmm…..*tidak bisa diceritakan betapa moody-nya
saya di trimester pertama kehamilan*
Umumnya sindrom kehamilan trimester
pertama, saya juga mengalami hampir semua ‘keunikan’ jadi ibu hamil muda. Morning
sickness! Yup, ini ‘keunikan’ yang saya alami dari segi fisik. Makan
bawannya nggak enak. Nggak makan, badan lemes. Pokoknya serba salah. Selain
makan, ada hal lain yang membuat saya rasanya mau throw up melulu,
yaituuuu sikat gigi sama cuci piring. Nah lho! Apalagi itu? Yup,
di awal kehamilan menyikat gigi jadi salah satu musuh utama saya. Sikat giginya
sih paling Cuma 5 menit, tapi setelah itu mual-mualnya bisa 1-2 jam baru
hilang. Huhuhu…. Di kasus sikat gigi ini juga saya serba salah. Mau sikat gigi,
takut mual-mual. Nggak sikat gigi? Idiiiiiih jorok plus miara kuman di mulut
dong!
Nah musuh utama saya yang kedua
adalah CUCI PIRING! Apa hubungannya cuci piring sama mual-mual hamil muda? Saya
juga nggak ngerti. Yang jelas, semenjak hamil muda, kalu saya cuci piring dan
masih lihat sisa-sisa makanan di atas piring yang saya cuci, langsung deh tanpa
ba-bi-bu. Hoek hoek hoek….. :(. Jadi, selama trimester pertama,
saya bawaannya selalu uring-uringan kalau mau sikat gig & cuci piring *bukan
karena saya jorok lho yaaaa*.
Dari segi psikis, yang jelas sekali
saya rasakan adalah mood swing a.k.a perubahan mood yang terjadi begitu saja.
Saya yang awalnya haha hihi ketawa ketiwi, bisa seketika berubah cemberut
gara-gara hal sepele yang, aaaah, nggak penting. Saya juga jadi lebih
sensitive. Dikit-dikit mewek, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit murung. Apalagi
saya memang sudah ada bakat gembeng alias gampang mewek dari lahir. Hihihi…
terus siapa yang biasanya jadi sasaran
korban saat mood swing melanda? Yaaaa siapa lagi kalau bukan mas suami :D*kebetulan juga disini saya hanya berdua
dengan suami* Kalau saya flash back masa-masa itu, rasanya lucu juga lho J.
Bagaimana saya tiba-tiba menjadi seorang Drama Queen *untung bukan drama
Korea :P* Mau makan, drama dulu. Mau jalan-jalan sore ke pasar, pakai acara
ngambek-ngambek nggak jelas dulu. Cerita masalah di sekolah, pakai nangis
Bombay sesenggukan juga. Hadeeeeh,….kok bisa ya dulu saya kayak gitu? Lucu juga
kalau diingat-ingat, hihihi…. Tapi, Allah Maha Adil dan Pengertian. Alhamdulillah,
suami saya bisa sabaaaaaaaaaaaaaaaaar menghadapi kerewelan saya yang banyak
nggak jelasnya itu, hehe… Thank you, Mas. Sudah sedemikian sabar menhadapi
istrimu yang masih alay, labil, dan moody ini. Love you :* *muaaaah cup cup
cup*
Seiring berjalannya waktu, akhirnya
saya bisa berpikir jernih kembali bahwa ada satu hikmah yang saya pelajari:
BERSYUKUR. Ya, bersyukur bahwa kami diberi sebuah amanat, sebuah kepercayaan
yang luar biasa dari Allah. Ini karunia Allah, yang diberikan kepada saya dan
suami. Itu tandanya Allah percaya dengan kami. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…… :)
Yup itu tadi cerita drama trimester
pertama saya yang penuh dengan bunga-bunga *eleeeeh opooooo kuwi*. Sekarang
kami sedang sangat excited menunggu kelahiran Dek Bayi yang sudah semakin dekat
J. Mohon doa kawan-kawan semua :).
See ya in the upcoming post :*
Salam bumil muda :D

aamiin....ketawa2 sendiri baca postingan mbaa.... aaaah jd baper deh..wkwk
ReplyDeletesehat terus mb dan dek bay nya...semoga lancar persalinan..eh udah lahir blum yak?? hhe
waiting the next story nya kakakkkk... :) :)
wah, ketinggalan aku ini...
ReplyDeleteya, bisa share pengalaman ngajar disana kah dek?