Tugas segudang. Dosen susah diajak ketemu. Pembimbing
keluar kota melulu. Konsultasi skripsi macet. Nilai kuliah udah mirip kunci
gitar (A, B, C, D, E, F). Arrrrrrgghhhhh!!!! Kalau kuliah rumit bin ribet
begini, rasanya pengen teriak “Nikahin adek, Baaaaaaaaaaang!”
Hayooo, ngaku ada yang pernah membatin kayak
gitu??? (And I’d ever been one of those girls, though I dunno who will propose
me, hihihi…). Biasanya sih mahasiswa semester hampir-hampiiir akhir sudah mulai
punya opini gila macam itu. Ketika kehidupan kampus sudah tidak semenyenangkan
dulu waktu semester bawah. Ketika teman-teman satu kelas atau seangkatan sudah
mulai disappear dan sibuk dengan target dan urusan masing-masing. Bahkan cari
waktu untuk sekedar haha-hihi sambil minum es teh dan makan gorengan+cabe rawit
di kantin pun susahnya minta ampun. Rasanya ingin segera out cabut bedol desa
dari hiruk pikuk kampus. Dan, biasanya (kebanyakan sih yang mahasiswi,
hihihihi) banyak yang berpikir praktis bahwa menikah mungkin bisa jadi solusi
untuk mengembalikan kewarasan otak setelah diubek-ubek segudang permasalahan
tentang kampus dan kuliah. As if that dengan menikah semua masalah itu
akan punah sirna dihantam badai meteor kebahagiaan menjadi sepasang manten
anyar. Hahaha! Indahnya dunia ini :). Helloooow! Bangunlah wahai mahasiswa
mahasiswi pemuda pemudi Indonesia harapan bangsa. Sebelum berangan-angan
indahnya dunia setelah menikah, coba cek dulu deh. Memangnya sudah ada calon
yang kira-kira mau ngajakin nikah? :D :P *gebukin rame-rame….*
Memang sih, jadi pengantin baru alias manten
anyar itu menyenangkan. Yang ada senyuuuuum terus sepanjang hari (yaiyalaaah
masa’ manyun merengut kayak perkutut :(), sampai-sampai bibir pegel linu
ketarik terus, hehehe. Yaa, bahagia karena sudah sah dan halalan thayyiban
sekaligus nervous malu malu gimana gitu kalau ketemu orang apalagi pas
mulai kenalan dengan keluarga besar. Tapi, semuanya mendadak menjadi hal yang
seru dan menyenangkan kok :D! *lagaknya kalo ngomong, kayak udah pengalaman
banget aja nih :P!*
Tapi eh tapi, ada hal yang perlu diingat bahwa
menikah itu nggak selamanya soal I love you and you love me, happily after terus
kelar semua urusan! Namanya hidup, mau sudah menikah atau belum pasti ada
masalah kan? Meskipun konteksnya beda-beda, masalah & rintangan itu mesti
ada. Bukannya mau mempertakut (eleeeh opo iki…), but it is a sure, a must. Mulai
dari masalah kecil remeh temeh sampai masalah yang besar. Ada satu hal baru
lagi yang saya pahami bahwa: Marriage is more than a matter of sleeping
together or having somebody to hug in your sleep! It’s surely beyond that.
*Kalo cuma ada yang dipeluk mah, pake bantal guling isi dakron juga bisa
kaleee*
Saya yang masih amat sangat sungguh new bee
dalam dunia suami-istri ini pun masih benar-benar harus belajar banyak tentang how
the life of marriage goes on. Bagaimana menjadi istri yang baik, bagaimana
membangun komunikasi yang terbuka dan sehat, dan bagaimana memahami dan mentoleransi
perbedaan karakter antara suami-istri. Seriously, kalau dipikir-pikir ini
memang rumit tapi everything is gonna be alright. Memang semuanya ini
baru bisa dipelajari sepenuhnya dan pelan-pelan dipahami melalui learning by
doing. *pasang muka sok wise*. This is an endless learning
process, since we’re gonna find something new to learn every day and every time.
Di tulisan ini saya nggak akan bahas tentang
bagaimana cara membangun keluarga harmonis, bahagia, sejahtera lahir batin. Dah
saya mah apa atuh… Nikah aja belum genep 7 bulan. Fardhu ‘ain bagi saya untuk
tetap banyak belajar :). Eits, hampir kelupaan…ada satu
poin penting yang menurut saya nggak boleh terlewat, yaitu soal NIAT ketika
kita memutuskan akan menikah. Jangan sampai niat kita menikah cuma sekedar
menghilangkan status jomblo, nggak kena bully teman-teman, apalagi biar punya
foto yang kece buat dijadikan poto propil di pesbuk, atau bisa sepenuhnya memiliki
sang pujaan hati yang kita cintai. Haduuuh, jangan sampai deh! Yuk, sama-sama
kita luruskan niat melakukan semua hal, termasuk menikah, untuk beribadah
kepada Allah SWT. Supaya apa? Supaya ke depannya, apa yang kita lakukan berkah
dan kita dianugerahi kemudahan dan kekuatan menghadapi setiap permasalahan.
Aamiin :) :) :).
Wah udah lumayan puanjang nih tulisannya.
Sekian dulu ya cerita lanjutan seri Mama Wanna be Story kali ini. Dek bayi-nya
udah protes nyuruh emaknya merem. Katanya kasian, emaknya udah ngantuk berat.
Hihihi…. Sebagai penutup, saya baru saja berhasil menciptakan sebuah quote
absurd yang maknyus :D. Marriage is the ending. Yes, the ending of being
‘jomblo’. But then, marriage is not the ending of everything. Otherwise, it is
the beginning of the voyage, a long great surprising voyage.
See ya on the upcoming post :*
No comments:
Post a Comment