Monday, November 7, 2016

Mama Wanna be Story #2

Tugas segudang. Dosen susah diajak ketemu. Pembimbing keluar kota melulu. Konsultasi skripsi macet. Nilai kuliah udah mirip kunci gitar (A, B, C, D, E, F). Arrrrrrgghhhhh!!!! Kalau kuliah rumit bin ribet begini, rasanya pengen teriak “Nikahin adek, Baaaaaaaaaaang!”

Hayooo, ngaku ada yang pernah membatin kayak gitu??? (And I’d ever been one of those girls, though I dunno who will propose me, hihihi…). Biasanya sih mahasiswa semester hampir-hampiiir akhir sudah mulai punya opini gila macam itu. Ketika kehidupan kampus sudah tidak semenyenangkan dulu waktu semester bawah. Ketika teman-teman satu kelas atau seangkatan sudah mulai disappear dan sibuk dengan target dan urusan masing-masing. Bahkan cari waktu untuk sekedar haha-hihi sambil minum es teh dan makan gorengan+cabe rawit di kantin pun susahnya minta ampun. Rasanya ingin segera out cabut bedol desa dari hiruk pikuk kampus. Dan, biasanya (kebanyakan sih yang mahasiswi, hihihihi) banyak yang berpikir praktis bahwa menikah mungkin bisa jadi solusi untuk mengembalikan kewarasan otak setelah diubek-ubek segudang permasalahan tentang kampus dan kuliah. As if that dengan menikah semua masalah itu akan punah sirna dihantam badai meteor kebahagiaan menjadi sepasang manten anyar. Hahaha! Indahnya dunia ini :). Helloooow! Bangunlah wahai mahasiswa mahasiswi pemuda pemudi Indonesia harapan bangsa. Sebelum berangan-angan indahnya dunia setelah menikah, coba cek dulu deh. Memangnya sudah ada calon yang kira-kira mau ngajakin nikah? :D :P *gebukin rame-rame….*

Memang sih, jadi pengantin baru alias manten anyar itu menyenangkan. Yang ada senyuuuuum terus sepanjang hari (yaiyalaaah masa’ manyun merengut kayak perkutut :(), sampai-sampai bibir pegel linu ketarik terus, hehehe. Yaa, bahagia karena sudah sah dan halalan thayyiban sekaligus nervous malu malu gimana gitu kalau ketemu orang apalagi pas mulai kenalan dengan keluarga besar. Tapi, semuanya mendadak menjadi hal yang seru dan menyenangkan kok :D! *lagaknya kalo ngomong, kayak udah pengalaman banget aja nih :P!*

Tapi eh tapi, ada hal yang perlu diingat bahwa menikah itu nggak selamanya soal I love you and you love me, happily after terus kelar semua urusan! Namanya hidup, mau sudah menikah atau belum pasti ada masalah kan? Meskipun konteksnya beda-beda, masalah & rintangan itu mesti ada. Bukannya mau mempertakut (eleeeh opo iki…), but it is a sure, a must. Mulai dari masalah kecil remeh temeh sampai masalah yang besar. Ada satu hal baru lagi yang saya pahami bahwa: Marriage is more than a matter of sleeping together or having somebody to hug in your sleep! It’s surely beyond that. *Kalo cuma ada yang dipeluk mah, pake bantal guling isi dakron juga bisa kaleee*

Saya yang masih amat sangat sungguh new bee dalam dunia suami-istri ini pun masih benar-benar harus belajar banyak tentang how the life of marriage goes on. Bagaimana menjadi istri yang baik, bagaimana membangun komunikasi yang terbuka dan sehat, dan bagaimana memahami dan mentoleransi perbedaan karakter antara suami-istri. Seriously, kalau dipikir-pikir ini memang rumit tapi everything is gonna be alright. Memang semuanya ini baru bisa dipelajari sepenuhnya dan pelan-pelan dipahami melalui learning by doing. *pasang muka sok wise*. This is an endless learning process, since we’re gonna find something new to learn every day and every time.

Di tulisan ini saya nggak akan bahas tentang bagaimana cara membangun keluarga harmonis, bahagia, sejahtera lahir batin. Dah saya mah apa atuh… Nikah aja belum genep 7 bulan. Fardhu ‘ain bagi saya untuk tetap banyak belajar :). Eits, hampir kelupaan…ada satu poin penting yang menurut saya nggak boleh terlewat, yaitu soal NIAT ketika kita memutuskan akan menikah. Jangan sampai niat kita menikah cuma sekedar menghilangkan status jomblo, nggak kena bully teman-teman, apalagi biar punya foto yang kece buat dijadikan poto propil di pesbuk, atau bisa sepenuhnya memiliki sang pujaan hati yang kita cintai. Haduuuh, jangan sampai deh! Yuk, sama-sama kita luruskan niat melakukan semua hal, termasuk menikah, untuk beribadah kepada Allah SWT. Supaya apa? Supaya ke depannya, apa yang kita lakukan berkah dan kita dianugerahi kemudahan dan kekuatan menghadapi setiap permasalahan. Aamiin :) :) :).

Wah udah lumayan puanjang nih tulisannya. Sekian dulu ya cerita lanjutan seri Mama Wanna be Story kali ini. Dek bayi-nya udah protes nyuruh emaknya merem. Katanya kasian, emaknya udah ngantuk berat. Hihihi…. Sebagai penutup, saya baru saja berhasil menciptakan sebuah quote absurd yang maknyus :D. Marriage is the ending. Yes, the ending of being ‘jomblo’. But then, marriage is not the ending of everything. Otherwise, it is the beginning of the voyage, a long great surprising voyage.

See ya on the upcoming post :*


No comments:

Post a Comment